Takut Aksi Unjuk Rasa Berjilid-jilid, Petinggi BRI Life Jakarta "Menyerah" dan Janji Kembalikan Uang Amal Agus Zega

 

DHI Sumut — Perlawanan gigih Amal Agus Suheri Zega melawan raksasa asuransi jiwa BRI Life akhirnya membuahkan hasil signifikan. Pihak asuransi yang sebelumnya mahir berkelit dengan berbagai alasan administratif kini terpaksa "mengalah" dan bertekuk lutut setelah diancam dengan serangkaian aksi unjuk rasa berjilid-jilid yang siap melumpuhkan aktivitas operasional mereka.

Perkembangan terbaru mencatat, pada hari Kamis (05/11/2026) sekitar pukul 14.00 WIB, manajemen puncak BRI Life dari Jakarta dan Manajer Wilayah Medan sengaja terbang langsung ke Gunungsitoli demi meredam gejolak sengketa ini. Bertempat di Kantor Cabang (KC) BRI Gunungsitoli, pertemuan darurat tersebut berlangsung sangat alot dan menegangkan, dengan pengawalan ketat yang turut dihadiri oleh Pimpinan Cabang (Pinca) BRI Gunungsitoli, satu orang perwakilan dari Nias Selatan, serta dua personel dari Sat Intelkam Polres Nias.

Suasana di dalam ruang rapat sempat memanas ketika perwakilan BRI berkali-kali harus keluar ruangan untuk melakukan komunikasi intensif via telepon dengan direksi di Jakarta. Pihak BRI Life awalnya sempat memohon dan merayu Amal Agus Zega untuk bersama-sama menandatangani sebuah surat pernyataan bersama. Namun, upaya diplomasi tersebut ditolak mentah-mentah oleh Amal Agus Zega yang tetap berdiri kokoh pada prinsipnya.

Ketegangan semakin memuncak saat pihak BRI meminta kelonggaran waktu untuk mengembalikan uang tersebut hingga akhir bulan November 2026. Permintaan tersebut langsung dimentahkan oleh Amal Agus Zega yang mengultimatum batas waktu penyerahan dana. Akibat desakan tanpa kompromi tersebut, pihak BRI Life akhirnya menyerah dan menjanjikan pembayaran tunai sebesar 25 juta dalam tempo satu minggu, tepatnya pada Kamis (12/11/2026), dengan dalih butuh waktu untuk "mengumpulkan uang terlebih dahulu".

Kasus ini berakar dari kekecewaan mendalam Amal Agus Zega, seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) aktif dengan masa pengabdian 33 tahun, yang merasa dikecoh setelah klaim penyakit kritis stroke dan jantungnya ditolak secara sepihak oleh BRI Life Gunungsitoli. Saat itu, asuransi dinilai "unfaedah" karena memberlakukan syarat sepihak berupa pembuktian stroke selama 3 bulan, serta gagal memfasilitasi administrasi medis akibat tidak adanya ikatan kerja sama (PKS) antara BRI Life dengan RSU Thomsen Gunungsitoli.

Meski pihak asuransi telah berjanji mengembalikan dana, Amal Agus Zega menegaskan bahwa dirinya tidak akan lengah dan akan terus mengawal janji tersebut hingga terealisasi. Ia melayangkan peringatan keras bahwa jika pada tanggal 12 November 2026 uang premi tersebut belum masuk ke tangannya, maka ia memastikan gelombang unjuk rasa besar-besaran secara berjilid-jilid akan langsung digulirkan di depan Kantor BRI Gunungsitoli. Kasus ini menjadi bukti nyata bahwa keberanian nasabah yang bersuara mampu meruntuhkan arogansi birokrasi lembaga keuangan yang kerap merugikan masyarakat kecil.

@p_sanjaya

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال