DHI Sumut – Praktik bongkar muat yang menyalahi standardisasi operasional kepelabuhanan kembali berulang di Pelabuhan Angin Gunungsitoli. Pada Jumat (23/10/2026) sekitar pukul 18.30 WIB, terpantau sebanyak tujuh boks kontainer program Tol Laut ditumpuk begitu saja di area bibir dermaga kargo (apron). Manajemen PT Pelindo (Persero) Regional 1 Gunungsitoli dinilai membiarkan kondisi tersebut tanpa ada upaya pemindahan boks ke Lapangan Penumpukan (Container Yard / CY) yang semestinya.
Diketahui, ketujuh kontainer Tol Laut tersebut bermuatan komoditas Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) merek Aqua ukuran 600 ml. Berdasarkan pantauan di lapangan, pembongkaran muatan terpaksa dilakukan secara manual menggunakan tenaga manusia yang mengoperasikan estafet kardus non-pallet untuk kemudian diciduk satu per satu secara eceran langsung ke bak mobil L-300 dan pick-up. Proses pembongkaran langsung (direct stripping) di area terlarang ini berlangsung kurang dari 24 jam setelah kapal Tol Laut KM Kendhaga Nusantara 2 bersandar pada Kamis (22/10/2026).
Praktik kompromi lokal ini jamak dipilih oleh para agen sembako dan kebutuhan pokok di Pulau Nias. Sistem "menciduk" isi kontainer ke armada kecil dianggap sebagai jalan pintas paling efektif untuk memotong rantai distribusi, menghindari biaya sewa gudang transito, serta menekan ongkos sewa armada trailer besar yang sulit mengakses jalanan sempit di luar pelabuhan.
Meski menguntungkan bagi pelaku usaha mikro, fenomena yang terus berulang ini memicu ancaman serius pada aspek keselamatan kerja (K3) dan memicu kongesti (kepadatan) di area apron. Menahan kontainer di bibir dermaga demi pembongkaran manual yang memakan waktu berjam-jam dinilai menurunkan utilitas pelabuhan dan mengganggu ruang steril yang semestinya dialokasikan untuk kelancaran pelayanan penumpang kapal RoRo. Peristiwa ini menjadi alarm keras bahwa Pelabuhan Angin tidak sekadar membutuhkan perbaikan fisik beton dermaga, melainkan pembenahan manajemen tata ruang logistik yang tegas dari para pemangku kebijakan.
Saat awak media mencoba mengonfirmasi situasi semrawut ini secara langsung di lokasi kejadian kepada General Manager Pelindo Regional 1 Gunungsitoli, Ardhi Amarullah, serta Manager Bisnis dan Teknik (Manbistek), Yakob Adian Nadeak, kedua pejabat teras Pelindo tersebut enggan memberikan respons dan memilih bungkam atas permasalahan operasional yang terjadi di wilayah kerjanya.
@p_sanjaya
